Sabtu, 07 April 2012

pemilik hatiku


Wahai pemilik hati
Penghias sanubari
Pelukis permai
Penawar rindu ini

Terpisah ruang dan waktu
Qalbu membisu
Menahan gemuruh rindu
Tertahan menanti hadirmu

Wahai pelukis cinta
Warnai dunia
Ukirkan sejuta tawa

Aku kini memandang langit, sayang
Semoga kau juga
Semoga kita tengah memandang awan yang sama
Awan putih, seputih kita
Seputih sayang di hati kita

Cinta . . . .
Penuh dengan perjuangan
Cinta dapat mengubah segalanya
Ketika hidup adalah api maka cintalah panasnya
Ketika hidup adalah perjuangan maka
  cintalah penyemangatnya




Rabu, 04 April 2012

sejarah rajagaluh


Sejarah Rajagaluh
          Konon pada zaman dahulu, Desa Rajagaluh adalah sebuah Kerajaan dibawah wilayah kekuasaan Karajaan Padjajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi dan pada saat itu Kerajaan Rajagaluh dipimpin oleh seorang Raja yang terkenal Digjaya Sakti Mandraguna. Agama yang dianutnya adalah hindu. Pada tahun 1482 Masehi, Syekh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunng Jati) mengembangkan Islam di Jawa Barat dengan cara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan, hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukkan. Setelah Keajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran, maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan, Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakra Ningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata Adipati Kuningan yang bernama Adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran.
          Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa JALAKSANA, artinya jaya dalam melaksanakan tugas. Perang tanding tersebut dapat didengar oleh Syeh Syarif Hidayatulloh yang kemudian beliau mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainal Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam perang tanding.
          Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi tertaahan di Rajagaluh. Semenjak kejadian tersebut, Kerajaan segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
          Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuknya Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan Dempu Awang keduanya berasal dari Tata/dataran Cina. Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh dengan mata hatinya berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus tiga orang utusan yakni, Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit.
          Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan Patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namun prajurit Cirebon dapat dipukul mundur. Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir, maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon tidak berani mendekati daerah Rajagaluh begitupun sebaliknya.
          Atas kejadian ini Prabu Cakra Ningrat segera mengutus Patih Arya Mangkubumi, ditugaskan untuk menancapkan sebuah Tumbak Trisula pada sebuah Lubuk sungai disekitar tempat terjadinya perang tanding. Akibatnya tancapan tombak tersebut serta air sungai tersebut berubah menjadi panas dan dapat membahayakan bagi prajurit Cirebon manakala menyebranginya. Kejadian tersebut mengundang marahnya pihak Cirebon. Nyi Mas Gandasari cepat bertindak, dengan kesaktiannya ia mengencingi sungai tersebut. Seketika air sungaipun tidak berbahaya lagi walaupun airnya tetap panas. Tempat kejadian tersebut sekarang dikenal dengan nama Desa Kedung Bunder.
          Setelah kejadian itu syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan serta prajuritnya berupaya mendekati kota Rajagaluh, rombongan kemudian berhenti ditepian kota Rajagaluh, membuat perlindungan sebagai tempat pengintaian. Tempat tersebut berada disekitar Desa Mindi yang sekarang dikenal dengan hutan tenjo.
          Pada saat yang bersamaan Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus pula Nyi Mas Gandasari, ia ditugaskan untuk menggoda Prabu Cakra Ningrat, dengan harapan Nyi Mas Gandasari dapat melarikan Zimat Bokor Mas (Kandaga Mas) sebagai zimat andalan kesaktian Prabu Cakra Ningrat.
          Saat mendekati wilayah Rajagaluh, Nyi Mas Gandasari menyamar sebagai pengemis dan ia selamat luput dari pengawasan prajurit Rajagaluh. Begitu masuk pinggiran Kota Rajagaluh, peran penyamarannya dirubah menjadi ronggeng keliling. Pinggiran kota tersebut sekarang dikenal sebagai Desa Lame. Gerak-gerik penyamaran Nyi Mas Gandasari tidak terlepas dari pengawasan dan Pengintaian Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawan.
Ketenaran Nyimas Ronggeng begitu cepat meluas baik dari kecantikannya ataupun lemah gemulai tariannya yang mempesona. Berita ketenaran Nyi Ronggeng sampai pula ke istana. Dengan penuh penasaran Prabu Cakra Ningrat memanggil Nyi Ronggeng ke istana.
          Usai Nyi Ronggeng menunjukkan kebolehannya, tanpa diduga sebelumnya ternyata Sang Prabu Cakra Ningrat langsung terpikat hatinya. Gelagat perubahan yang terjadi pada Prabu Cakra Ningrat segera diketahui oleh anaknya Nyi Putri Indangsari. Dinasehatilah ayahnya agar jangan terpikat oleh Nyi Ronggeng. Namun, nasehat Nyi Putri ternyata tidak digubrisnya sampai diacuhkannya, bahkan Sang Prabu berkenan mengajak Nyi Ronggeng masuk ke istana, beliau sampai mengajak tidur bersama.
          Nyi Ronggeng menolak ajakan terakhir dari Sang Prabu Cakra Ningrat, Nyi Ronggengpun dapat mengabulkan ajakan beliau untuk tidur bersama asal dengan syarat Prabu Cakra Ningrat terlebih dahulu dapat memperlihatkan zimat andalannya yaitu Bokor Mas.
Syarat tersebut disetujui oleh Sang Prabu, maka diperlihatkanlah zimat yang dimaksud, serta merta dirabalah zimat tersebut oleh Nyi Ronggeng.
          Bertepatan dengan itu, tiba-tiba Sang Prabu ingin buang air kecil, maka kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Nyi Ronggeng. Bokor Mas langsung diambil dan dibawa lari saat Sang Prabu buang hajat kecil. Diluar, Nyi Mas Gandasari dihadang oleh seekor banteng besar penjaga istana, namun dengan kesaktiannya ia dapat lolos dari amukan banteng tersebut. Kejadian tersebut segera terlihat oleh Syeh Magelung Sakti dan kawan-kawannya dan banteng itupun ditebasnya sampai putus lehernya. Kendatipun kepalanya sudah terpisah namun kepala banteng tersebut masih bisa mengamuk menyeruduk membabi buta, namun akhirnya kepala banteng tersebut terkena tendangan Syeh Magelung Sakti sehingga melayang dan jatuh didaerah ciledug yang sekarang dikenal sebagai Desa Hulu Banteng. Sedangkan badannya lari kearah utara sampai akhirnya terjerembab ke sebuah Lubuk Sungai. Sekarang dikenal sebagai Desa Leuwimunding.
          Prajurit Cirebon terus menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagauluh sudah lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri ke kota Talaga bergabung dengan Prabu Pucuk Umum. Yang kemudian keduanya pergi menuju Banten (Ujung Kulon). Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya karena rasa jengkel sebab saran-saran Nyi Putri Indangsari tidak didengar oleh ayahnya. Nyi Putri Indangsari sendiri malah pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok. Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, Sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya. Namun ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili.
          Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk Islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk Islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua. Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, dari hatinya timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia merenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan.
          Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya menghilang. Wallahu A’lam bisshowaab…



Cordoba, Spain (Peradaban Islam di Cordoba)

Cordoba, The City of Islamic Civilization in Europe The Lost
City of science
            Traces of the glory of Islam in Cordoba are not only magnificent building left, but leave civilization a science are priceless. The town is located in Andalusia province West of Spain is also known as a center of science. In this city, stood a huge library with total volume reaching 400 thousand people visitor. Yet at the same time, major libraries in Europe, the volume of visitors rarely reached one thousand.
            Because it is not wrong if Cordoba called as the greatest center of learning in Europe, while other cities on the continent is in the darkness. Cordoba like fragrant flowers that spread in Europe during the Middle Ages as it was described as the Lane Poole, wonders of the world.
            In the reign of Abrurrahman III, University of Cordoba stands the famous and the pride of Muslims, thus droves of students from various regions, including Christian students from Europe studying. Of this university, Western countries absorbed science. One Christian student studying in Spain, Gerbert d'Aurillac is (945-1003), who later became Pope Sylvester II. After studying mathematics in Spain, he later founded the cathedral school and also teaching arithmetic and geometry to his student.
            The development education in Cordoba, even more shine in the era of Al-Hakam Al-Muntasir so called pious Caliph. A total of 27 private schools stood at that time and library building up to seventy pieces to add vibrant development of science. The number of visitors reached 400 thousand people. In fact, the volume of library visits in Europe, at that time, the highest reaching 1,000 people. At that time, there were 170 women who work as writers of the holy Al-Qur’an to the beautiful Kufi letters. Poor children can learn for free at the 80 schools that provided the Caliph. Higher education there was in balance with welfare.
           
            The growth of science in Cordoba in the era of the triumph of Islam has (give birth) spawned a number of scientists and scholars. Cordoba is an intellectual center in Europe with universities very well known in medicine, mathematics, philosophy, literature and even music. The contribution of intellectuals and scholars who were born of Cordoba is recognized and given effect to the human civilization. Among the scientists who appeared on the golden era of Islam in Cordoba, among others, Abul Al-Walid Muhammad Ibn Ahmad Ibn Muhammad Ibn Rushd, who later better known as Ibn Rushd or Averrous. Ibn Rushd was a very influential Muslim scholarship in the 12th century and the next few centuries. He was a philosopher who has contributed to the tradition of integrating Islam with Greek thought.
            Thus was born a mujtahid scholar is Ibn Hazm who wrote the book Al-Muhalla. There is also a mufassir famous, namely Al-Qurtubi wrote the book Al-Qurtubi interpretation. Then the modernization of health experts, Az-Zahrawi, who introduced the nursing techniques and create new tools and techniques of surgical bean inside and out. He wrote a medical book picture is used as reference by the European medical experts. Know the science of surgery through his book, and much more scientific expert who appeared at that time.
            That city of Cordoba which in it is heyday inspired many western writers who variously described by historians and political progress as a forerunner to the carrier for the West in recent times.


Name: Nurhana Syamarro

Senin, 02 April 2012

peta konsep HISTOLOGI


HISTOLOGI
1. JARINGAN

a. EMBRIONIK
MERISTEM
LETAK
APIKAL
INTERKALAR
LATERAL
BENTUK
PRIMER
SEKUNDER
b. DEWASA
SEDERHANA
PELINDUNG
EPIDERMIS
PARENKIM
PENYOKONG
KOLENKIM
SKLERENKIM
KLOMPLEKS
VASKULER
XILEM
FLOEM